Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu...
Sabtu, 25 April 2009
masuk neraka karena lalat...
Kemudian para sahabat bertanya: “Bagaimana bisa begitu, ya Rasulullah?“
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab:
“Ada dua orang berjalan melewati satu kaum di mana mereka memiliki berhala, yang tak seorangpun dibiarkan lewat sebelum mempersembahkan sesuatu bagi berhala tersebut.
Dan berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut :
Persembahkanlah bagi berhala itu walaupun dengan seekor lalat!
Maka orang pertama ini mempersembahkan seekor lalat sehingga diperkenankan meneruskan perjalanannya, dan masuklah ia ke dalam neraka (-gara-gara perbuatan tersebut-).
Kemudian mereka berkata kepada orang kedua : Persembahkanlah sesuatu ! Maka orang kedua ini menjawab : Tidak patut aku mempersembahkan sesuatu kecuali kepada ALLAH saja. Maka mereka memenggal lehernya, dan masuklah ia ke dalam surga (- gara-gara perbuatan tersebut-).” (HR Ahmad)
sholat dhuha berjama'ah
Sholat Dhuha itu sendiri hukumnya sunnah muakkadah, paling sedikit dua rakaat dan sebanyak-banyaknya delapan rakaat. Menurut Imam Ar-Rauyani dan Imam Ar-Rafi’i, sebanyak-banyaknya dua belas rakaat. Dikerjakan dengan sekali salam setiap-tiap dua rakaat. Waktunya adalah sejak terbitnya matahari hingga tergelincirnya matahari. (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, 4/35-36).
Memang pada umumnya shalat sunnah Dhuha dianggap para ulama sebagai shalat sunnah (tathawwu’) yang tidak disunnahkan/disyariatkan berjamaah. (Imam Nawawi, Raudhah Ath-Thalibin, 1/122; As-Sayyid Al-Bakri, I’anah Ath-Thalibin, 1/272).
Namun demikian, sebagian ulama telah meneliti ulang permasalahan tersebut. Dan mereka menemukan dalil bahwa sholat Dhuha ternyata boleh dikerjakan secara berjamaah. Syaikh Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah, misalnya, mengatakan,”Sholat Dhuha ini dapat dikerjakan secara sendirian dan dapat pula dikerjakan berjama’ah.” Beliau lalu menyebutkan dalilnya, yaitu hadis dari ‘Itban bin Malik RA yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, dan Ibnu Khuzaimah. (Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah, Al-Jami’ li Ahkam Ash-Shalah, 2/399).
Dalam kitab Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari) karya Imam Ibnu Hajar Al-’Asqalani, dinukilkan hadis ‘Itban bin Malik RA tersebut, bahwa Rasulullah SAW telah melakukan sholat Dhuha (subhata adh-dhuha) di rumahnya [rumah 'Itban bin Malik], lalu orang-orang berdiri di belakang beliau dan mereka pun sholat dengan sholat beliau. (fa-qaamuu waraa`ahu fa-shalluu bi-shalaatihi). (Ibnu Hajar Al-’Asqalani, Fathul Bari, 4/177).
Imam Ibnu Hajar Al-’Asqalani menjelaskan bahwa hadis di atas adalah hadis riwayat Imam Ahmad. Beliau juga menyatakan bahwa hadis yang semakna ini telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari shahabat Ibnu Wahab bin Yunus RA. (Ibnu Hajar Al-’Asqalani, Fathul Bari, 4/177; HR Ahmad no 22657; Ibnu Khuzaimah no 1165).
Kitab lain yang menyatakan bolehnya sholat Dhuha berjamaah adalah kitab Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubro (2/250), berdasarkan hadis ‘A`idz bin Amr RA yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Thabrani. Dari ‘A`idz bin Amr RA dia berkata,”Suatu saat air sedikit, maka Rasulullah SAW pun berwudhu dengan air dalam satu gelas (qadah) atau satu mangkuk besar (jafnah). Lalu Rasulullah SAW menasehati kami karena sedikitnya air saat itu. Rasulullah SAW bersabda,’Orang yang bahagia di antara kita adalah orang yang terkena musibah, tapi dia tidak memperlihatkan itu kepada kita. Kecuali kalau musibah itu sudah menimpa semua orang dalam satu kaum.’ Kemudian Rasululullah SAW shalat Dhuha bersama-sama kami (tsumma shalla binaa rasulullah SAW adh-dhuha).” (HR Ahmad no 19721; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, no 14462).
Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka jelaslah bahwa melaksanakan sholat sunnah Dhuha secara berjamaah adalah boleh (ja`iz) menurut syara’, dan bukan merupakan suatu bid’ah. Sebab Rasulullah SAW sendiri pernah melaksanakan sholat sunnah Dhuha secara berjamaah dengan para shahabatnya, ridhwanullahi ‘alaihim. Wallahu a’lam.Rabu, 22 April 2009
membunuh nurani
ketika hati nurani mati maka manusia tak ubahnya seperti binatang yang buas, rakus, dan serakah. dan tidak beretika juga tanpa budi pekerti.
yakni mereka yang mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (kebenaran), mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (kebenaran) dan mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka tak ubahnya binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka adalah orang-orang yang lalai (Q/7;179)
ketika nurani mati mati kita tidak lagi mampu mengikuti kebenaran, ada distorsi antara ilmu dan tingkah laku kita,
suara hati nurani itu sering menghilang, karena kita tidak biasakan melatihnya... kita tdk mengelola irama hati agar senada dengan harmony kehidupan...
kita tdk membiasakan zuhudnya hati terefleksi dalam zuhudnya kelakuan, sehingga nada-nada hati itu slalu sumbang karena disana masih ada cinta dunia, popularitas, pujian dan keserakahan, ambisi liar ke egois-an, karena hidup kita selalu dihiasi dengan itu semua.
wajar banyak ulama dan ahli agama hidup bermewah-mewahan, sementara dulu mereka berteriak tentang teladan dan kesederhanaan, karena nurani mereka mati... dibunuh berkali-kali..
KH. Didin Hafidhudin (Republika, 7/8/08) menulis, "Salah satu faktor yang menyebabkan runtuhnya nilai-nilai perjuangan dalam dunia politik adalah saat materi menjadi tujuan utama dan gaya serta penampilan lebih diutamakan." Banyak orang-orang yang awalnya lurus menjadi bengkok bahkan patah saat mendapat cobaan harta seperti ini.
matinya suara hati dan nurani pun dibiarkan terjadi di kampus dan sekolah-sekolah ketika senior membantai yuniornya tanpa belas kasihan,
bahkan itupun sering kali terjadi di lembaga-lembaga pendidikan negara, lembaga-lembaga itu jadi saksi matinya suara hati dan nurani para calon pejabat dan pemimpin negeri ini.
sehingga akhirnya wajar banyak pemimpin negeri membunuh rakyatnya sendiri, karena terbiasa menikam hati nuraninya berkali-kali.
dan baru-baru ini pun kita disuguhi matinya nurani dan suara hati para calon wakil rakyat uang seenaknya memaku pepohonan dan tembok rumah orang merusak indahnya lingkungan, hanya untuk memajang photo mereka yg ga ganteng2 amat, narsis abis,
Suara hati dan nurani mereka sebagai manusia tertutup angan-angan dan impian untuk menjadi pejabat.
Suara hati dan nurani mereka terabaikan dengan angan-angan kehidupan elegan di masa depan, hingga wajar akhirnya yang gagal menjadi aleg, menjadi stress dan mati dengan sukses,
bagaimana mungkin mereka memperjuangkan suara hati rakyatnya, kalau ketika kampanye saja mereka rela melempar fitnah dan dengki dengan kolega se-partainya.
dan tidak heran muncul koalisi yg aneh-aneh, bukan mencari siapa yg terbaik buat negeri indah ini, tapi siapa yg paling menguntungkan buat golongan dan partai kami, hingga muncul broker-broker alias calo-calo politik yang kasak-kusuk mencari keuntungan pribadi, dengan menjadi pelacur idealisme dan demokrasi
akhirnya kembali pemenangnya nafsu dan nafsu pribadi...
suara hati nuraninya mati, karena dibunuh berkali-kali...
oleh iri, dengki dan ambisi pribadi,
suara hati yang mati tidak akan mampu berbagi, menebar cinta, dan menghargai.
satu kata kunci untuk nurani ... cinta. masihkan ia mendominasi...
"tidak disebut kebaikan(yang hakiki) sampai anda mampu memberi apa yang anda cintai"
mentari yang tak pernah ingkar janji
adduha: 1
kawan ceritakan padaku tentang mentari
yang tak pernah ingkar janji, datang dipagi hari dengan senyum yang berseri
yang sinarnya hangatkan bumi dan sanubari
melambangkan optimisme dan motivasi serta kelembutan pribadi, menemani kita melewati hari
cahayanya adalah energi yg selalu mengalir
sebagai tanda inspirasi yg tak bertepi
harapan yg selalu menyala
bukankah terik panasnya yg menyengat adalah caranya mengingatkan manusia
bahwa manusia telah membuat kerusakan dibumi dan lautan, mengoyak lapisan langit dan menyobek angkasa
mengingatkan kita untuk menyadari kesalahan...
terbit dan tenggelamnya adalah pemandu perjalanan
sebagai timur barat bagi kehidupan
menunjukkan kita hakikat kebenaran
kawan...
jadilah matahari kecil dalam dunia mu
yg kehilangan makna keteladan
dan ketika tak ada lagi orang yg bisa kau harapkan
ingatlah, selalu ada kami, saudara-saudaramu.
menemani, mengingatkan, memberikan harapan, memandu jalan.
jadikan kami mentari-mentari unik bagi hari-hari mu
"dan demi siang ketika ia terang benderang"
allail: 2
ismeidas m 250309
tanda-tanda khusnul khotimah
Mengucapkan syahadat menjelang kematiannya.
Dalam hal ini ada beberapa hadits:
“Barangsiapa yang akhir ucapannya lailahaillallah maka ia masuk jannah.”
Dikeluarkan oleh Imam Al Hakim maupun yang lain dengan sanad yang hasan dari Mu’adz radhiyallahu’anhu. Dan melalui jalan lain juga darinya dengan lafadz:
“Tidaklah suatu jiwa mati, sedangkan ia bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, yang ucapannya itu kembali ke lubuk hati yang yakin, melainkan Allah ampuni jiwa itu.”
Dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu ia mengatakan:
“Ketika Umar melihat Thalhah bin Ubaidillah dalam keadaan berat, ia berkata: “Ada apa engkau wahai Abu Fulan? Barangkali engkau diperlakukan buruk oleh istri pamanmu wahai Abu Fulan?”
Thalhah menjawab: “tidak (dan ia memuji-muji Abu Bakr), kecuali aku mendengar dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sebuah hadits yang tidak ada penghalang bagiku untuk bertanya tentangnya kecuali taqdir yang menemui Nabi shallallahu’alaihi wa sallam hingga beliau meninggal. Aku mendengar beliau mengatakan:
“Sesungguhnya aku benar-benar tahu sepatah kalimat. Tidaklah seorang hamba mengucapkannya ketika menjelang kematiannya, kecuali Allah akan mencerahkan warna (kulitnya) dan Allah ringankan darinya penderitaannya.”
Maka Umar berkata: “sesungguhnya aku benar-benar tahu kalimat apa itu. Apakah engkau tahu kalimat yang lebih agung dari kalimat yang Rasulullah perintahkan kepada pamannya, yaitu kalimat Lailahaillallah?
Kata Thalhah: “Engkau benar, ya kalimat itu demi Allah.”
Tanda kedua:
Meninggal dalam keadaan berkeringat di dahi (keningnya),
berdasar hadits Buraidah bin Hushaib radhiyallahu’anhu, bahwa ia di Khurasan menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Ternyata ia mendapatinya meninggal dan berkeringat dikeningnya. Maka ia berkata: Allahu akbar! Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Matinya seorang Mukmin itu ditandai dengan keringat di kening.”
Tanda ketiga:
Meninggal pada malam Jum’at atau siangnya,
berdasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:
“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at kecuali Allah selamatkan dari fitnah kubur
Tanda keempat:
Mati syahid di medan jihad,
berdasar firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Ali Imran (169-170):
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapatkan rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bersenang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Ali Imran: 169-170)
Dalam bab ini ada beberapa hadits:Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Bagi orang yang mati syahid ada enam bagian di sisi Allah: diampuni baginya sejak awal kucuran darahnya, ditampakkan tempat tinggalnya di jannah, dilindungi dari adzab kubur, aman dari kengerian yang dahsyat, dihiasi dengan hiasan iman, dijodohkan dengan bidadari yang bermata indah dan diijinkan mensyafa’ati tujuh puluh dari karib kerabatnya.”
Dari seorang sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa ada seorang yang berkata:
“Ya Rasulullah, mengapa orang-orang mukmin mendapat fitnah dalam kubur mereka kecuali orang yang mati syahid? ”Rasulullah berkata: “cukup dengan kilatan pedang di atas kepalanya sebagai fitnah.” .
Catatan: Sangat diharapkan kesyahidan ini didapatkan bagi orang yang memintanya dengan ikhlas dari hatinya walaupun tidak mudah baginya mati syahid di medan perang. Hal ini berdasar kepada sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:
“Barangsiapa minta kesyahidan kepada Allah dengan jujur, niscaya Allah sampaikan ia pada kedudukan para syuhada walaupun mati di kasurnya.”
Tanda kelima:
Mati sebagai tentara di jalan Allah.
Dalam hal ini ada dua hadits:
Dari Abu hurairah radhiyallahu’anhu ia berkata:Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkata para sahabat: “Apa saja yang termasuk mati syahid di antara kalian?” Mereka menjawab: “Ya Rasulullah, barang siapa terbunuh di jalan Allah dialah orang yang syahid.” Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkata: “Kalau begitu orang yami syahid dikalangan umatku jumlahnya sangat sedikit.” Para sahabat berkata: “Jadi mereka itu siapa saja ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Barangsiapa yang terbunuh di jalan Allah maka dia mati syahid, barang siapa yang mati di jalan (membela) Allah maka dia mati syahid, barangsiapa yang mati karena wabah Tha’un dia mati syahid, barangsiapa mati karena sakit perut[2] dia mati syahid dan orang yang mati tenggelam dia syahid.” .
“Barangsiapa yang keluar di jalan Allah lalu ia mati atau terbunuh maka ia syahid. Atau terjatuh dari kudanya atau untanya, atau disengat binatang berbisa, atau mati di kasurnya dengan sebab kematian aoa saja yang dikehendaki Allah, maka ia syahid dan ia mendapat jannah.
Tanda keenam:
Meninggal dalam rangka mempertahankan harta yang akan dirampas, dalam hal ini ada beberapa hadits:Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu’anhuma:
“Barangsiapa terbunuh dalam rangka mempertahankan hartanya (dalam sebuah riwayat: Barangsiapa diinginkan hartanya dengan cara yang tidak haq lalu ia memeranginya dan terbunuh) maka ia syahid.” .
Ada seseorang yang datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam lalu berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau jika ada seseorang yang ingin mengambil harta saya?” Rasulullah menjawab: Jangan berikan hartamu kepadanya!” Lalu orang itu berkata lagi: “Bagaimana pendapat engkau jika ia menyerang saya?” Kata Rasulullah: “Lawan dia!” kata orang itu lagi: “Bagaimana jika ia membunuh saya?” Rasulullah menjawab: “Kamu mati syahid.” Ia berkata lagi: “Bagaimana pendapat engkau jika saya membunuhnya?” Kata Rasulullah: “Ia masuk neraka.”
Dari Mukhariq radhiyallahu’anhu, ia berkata: “seseorang datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam lalu berkata: “Bagaimana jika ada orang yang datang kepada saya mengiginkan harta saya?” Rasulullah berkata: “Ingatkan ia kepada Allah!” Orang itu berkata: “Jika ia tidak mau ingat?” Rasulullah berkata: “Mintalah pertolongan kaum muslimin yang ada di sekitarmu untuk menghadapinya!” Katanya lagi: “Jika tidak ada seorang pun dari kaum muslimin di sekitar saya?” Rasulullah menjawab: “Mintalah pertolongan kepada penguasa!” Kata orang itu lagi: “Jika penguasa itu jauh dari saya (sedangkan orang itu mendesak saya?)” Rasulullah berkata: “Berperanglah untuk mempertahankan hartamu hingga kamu menjadi di antara para syuhada di akhirat, atau kamu bisa mempertahankan hartamu (menang)!”
Tanda tujuh:
Meninggal dalam rangka mempertahankan agama dan jiwa, dalam hal ini ada dua hadits:
“Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan hartanya maka ia syahid, barangsiapa terbunuh karena mempertahankan keluarganya maka ia syahid, barang siapa terbunuh karena mempertahankan agamanya maka ia syahid, barangsiapa terbunuh karena mempertahankan darahnya maka ia syahid
Tanda kedelapan :
Meninggal di atas amalan shalih,
berdasar kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:
“Barangsiapa yang mengucapkan laailaaha illallah dalam rangka mencari wajah Allah dan diakhiri hidupnya dengan amalan itu maka ia masuk jannah. Barangsiapa puasa satu hari dalam rangka mencari wajah Allah dan diakhiri hidupnya dengan amalan itu maka ia masuk jannah. Barang siapa bershadaqah satu shadaqah dalam rangka mencari wajah Allah dan diakhiri hidupnya dengan amalan itu maka ia masuk jannah.”
Selasa, 21 April 2009
bahtera kehidupan
Segala puji bagi Allah swt, yg telah menciptakan semesta dalam enam masa,
menciptakan dunia dan seluruh isinya,
menciptakan pagi yg penuh cita-cita dan asa,
menciptakan senja yg penuh cerita duka lara dan bahagia.
pagi adalah tanda kehidupan, awal pejalanan.
senja ibarat akhir kejadian, tanda kematian.
diantara kematian dan kehidupan seharusnya terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yg bersyukur
kawan....
pernahkah kita membayangkan jika nanti kita mati, kita dikuburkan sendirian, tanpa keluarga dan teman dan ga bisa sms-an, sepi hanya amal yg menjadi teman dan rekan, akankah hidup kita jd tangga kesurga ataukah jembatan menuju siksa,
siapkah nanti kita disiksa ribuan tahun lamanya... hanya karena nafsu dan keserakahan didunia, kebencian dan kedengkian didada kita...
untuk itu tidakkah lebih baik kita berbagi, cinta, ceria dan tawa, dan beramal segera
(dialah Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, untuk menguji siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Q.S. Al Mulk 67 : 2).
hiduplah dengan hati jernih, sejernih mata air, jadika ia kuat, sekuat kristal, tempalah ia agar lembut, selembut terpaan angin semilir.
jangan khianati kebeningan hati kita dengan dusta, kesombongan, dan kemaksiatan.
jangan pernah duakan Allah dihati kita...
jangan padamkan lentera kejujuran yg seharusnya menyala...
"sesungguhnya orang-orang yg dusta terhadap ayat-ayat kami dan sombong, kami tidak akan bukakan pintu2 langit, dan tidak akan masuk surga sampai masuknya onta kelubang jarum"
suatu ketika sahabat berdo'a"ya Allah jadikan dunia dihatiku, jangan jadikan ia bersemi di hati"
hidup itu ibarat melihat samudra indah biru penuh nuansa, tampak idah dimata.... tp cobalah membawa sampan ketengahnya, ada ombak pasang dan gelombang menanti disana. untuk itu siapkan perbekalan
kawan... jangan mengarungi samudra kehidupan tanpa perbekalan... karena ada gelombang keserakahan disana..
"dan berbekallah, sesungguhnya bekal terbaik adalah taqwa"
kawan hidup itu ibarat memandang pegunungan hijau semilir menyejukkan tampaknya. tapi cobalah mendaki kesana, banyak onak duri, tebing dan cadas tajam menghadang. maka siapkanlah perbekalan.
kawan... jangan menembus belantara kehidupan tanpa perbekalan. karena banyak jurang kedustaan disana
"dan berbekallah, sesungguhnya bekal terbaik adalah taqwa"
kata abudzar
perbaharuilah bahtera karena lautan itu dalam
perbanyaklah bekal karena perjalanan itu jauh
kurangi beban karena jalannya mendaki...
hiduplah dalam iman.
awalnya keselamatan, tengahnya kedamaian dan ujungnya syurga.
ismeidas makfiansah
gerbang setan dalam hati manusia
watch out guy's he may be comes after you...
(mohon yg merasa setan jangan tersinggung he he he)
setan telah bersumpah untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah dengan menggodanya dari segala arah,
Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang luruskemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (al a'raaf 16-17)
di ayat ini setan menyatakan akan menyergap manusia dari semua penjuru, baik depan, belakang, samping kanan, maupun kiri.
dalam tafsir ibnu katsir dijelaskan, bahwa ibnu abbas menyatakan dalam ayat ini, ada 4 strategi setan dalam menggoda manusia, hingga manusia terayu untuk bergabung dalam setan fan's club,
pertama:
setan menggoda dari depan, maknanya adalah setan menanamkan rasa ragu pada kehidupan akhirat, sehingga ketika keraguan itu mengakar dihati kita, maka kita akan tidak percaya pada syurga dan tidak ngeri pada dosa sehingga kita berani menghalalkan segala macam cara, maksiat jd adat judi jd hobby, korupsi jd tradisi zina jd budaya. kita malas menebar kasih sayang dan kebaikan karena kita tak lagi percaya pada syurga.
kedua:
setan menggoda dari belakang dengan cara menumbuhkan dalam hati kita cinta pada dunia hingga dunia menjadi pengusa jiwa kita. dan akhirnya kita jadi budak dunia, maka ulama mengingatkan, bahwa cinta dunia adalah pangkal segala dosa.
kita tdk dilarang kaya, yg dilarang adalah jd budak kekayaan, sehingga foya-foya, hura-hura, dan akhirnya egois tidak peduli pada sesamal lalu pelit dan kikir menjadi kebiasaannya, akhirnya jadilah kita tidak perduli pada agama.
ketiga:
setan menggoda darisebelah kanan dalam artian setan membuat kita ragu pada syariat, hingga kita meremehkan agama dan meremehkan alquran dan ujungnya kita meremehkan Allah swt, bahkan kita berani untuk menghina aturan agama, dan menganggap agama lebih bodoh dari otak kita, dan akhirnya kita terbiasa hidup tanpa agama, hingga tanpa sadar kita anti pada agama..., mungkin awalnya ga sholat, akhirnya benci sama yg sholat, akhirnya memusuhi sholat. (hmmm... ada yg merasa mirip???)
keempat;
setan menggoda dari kiri dengan membuat manusia cinta kepada dosa, awalnya cuma pengen tau dosa, akhirnya hobby dosa, lalu jd pengkoleksi dosa kemudian jd pengedar dosa, serta bangga terhadap dosa, akhirnya kita jd franchisenya dosa. awalnya pengen tau zina, lalu hobby zina, akhirnya koleksi penzina, trus banggga deh sama kehebatan berzina, akhirnya nawarin temen-temen tuk ngikut zina, hmmm zina berjamaah.
makanya dah saatnya pintu2 setan itu kita gembok dan buang kuncinya...
ulama mengingatkan dalam hal ini ada pintu-pintu yang digunakan setan untuk masuk ke dalam hati manusia, agar strateginya sukses, diantaranya:
a. Marah, karena ia adalah bara dari api neraka dan merupakan kesempatan bagi setan untuk mempengaruhi seseorang.
b. Cinta dunia, karena ia adalah pangkal dari segala kesalahan.
c. Panjang angan-angan, karena ia akan menyebabkan kerasnya hati dan terpesona kesenangan dunia.
d. Rakus, karena ia akan melahirkan sifat tak pernah puas dan selalu ingin mendapatkan lebih.
e. Bakhil, karena ia adalah pintu kebinasaan.
f. Sombong, hingga ia tak mau menerima kebenaran dan nasihat
g. Senang pujian, karena ia adalah pintu ghurur (merasa super).
h. Riyaa (pamer amal kebaikan), karena ia adalah pangkal kemunafikan.
i. Ujub (kagum pada kelebihan diri sendiri) dan pamer kelebihan.
j. Berpendirian goyah dan cepat terpengaruh, karena ia adalah tanda lemahnya iman.
k. Mengikuti hawa nafsu, karena ia mendorong seseorang untuk menyerah dan tunduk kepada hawa nafsu.
l. Berburuk sangka, karena ia menyebabkan hubungan antara manusia menjadi rusak dan menggoyahkan sendi pergaulan.
m. Menghina orang lain, karena ia adalah ladang tumbuhnya kedengkian dan kebencian.
n. Menganggap remeh dosa, karena ia menyebabkan tenggelam dalam dosa, sedangkan terus menerus melakukan dosa kecil adalah dosa besar.
o. Merasa aman dari kemurkaan Allah, yang menyebabkan manusia tergelincir dalam pemikiran yang dangkal dan tidak acuh terhadap konsekuensi segala perbuatannya.
p. Berputus asa dari mendapatkan rahmat Allah. Hal itu adalah bencana yang paling besar, yang dengannya manusia akan terus bermaksiat kepada Rabbnya, dan membuat bumi menjadi terasa sempit baginya.